Rabu, 18 Maret 2009

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Menyelesasikan Masalah Volume Kubus dan Balok Melalui Realistic Mathematics Education (RME)

(Penelitian Tindakan Kelas di Kelas V SDN Puspajaya Kecamatan Tanggeung Kabupaten Cianjur)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Era globalisasi yang melanda dunia termasuk Indonesia berlangsung sangat cepat dan menimbulkan dampak global, menuntut manusia untuk unggul dan mampu mensiasati serta mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang sedang dan akan terjadi. Globalisasi akan semakin membuka diri suatu bangsa dalam menghadapi bangsa-bangsa lain. Batas-batas politik, ekonomi, dan sosial budaya antar bangsa akan kabur. Persaingan antar bangsa akan semakin ketat dan tak dapat dihindari, terutama di bidang ekonomi dan IPTEK. Hanya negara yang unggul dalam bidang ekonomi dan penguasaan IPTEK yang dapat mengambil manfaat atau keuntungan yang banyak.
1Globalisasi di bidang ekonomi ditandai dengan dan terbentuknya kawasan perdagangan bebas (AFTA) ASEAN yang telah dilaksanakan sejak tahn 2003. Globalisasi tidak hanya terjadi di bidang ekonomi, namun juga terjadi hampir di seluruh bidang kehidupan manusia, bidang sosial, ekonomi, pendidikan, hankam, dan budaya. Bahkan perkembangan global yang paling cepat adalah perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh masyarakat yang akan memenangkan persaingan di kompetisi global. Kompetisi tersebut menuntut sumber daya manusia yang memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Manusia global adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (bermoral), mampu bersaing, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki jati diri. Salah satu wahana yang strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul adalah melalui pendidikan.
Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional, yang disesuaikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan masyarakat serta kebutuhan pembangunan.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertkawa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan pada peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efesiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia memerlukan pendidikan, sampai kapan dan di manapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Selain itu pendidikan juga merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas SDM baik fisik, mental maupun spiritual. Sejalan dengan konsep pendidikan yang dicanangkan oleh PBB bahwa pendidikan ditegakkan oleh empat pilar, yaitu learn to know, learn to do, learn to live together dan learn to be. Pilar pertama dan kedua lebih diarahkan untuk membentuk sense of having yaitu bagaimana pendidikan dapat mendorong terciptanya sumber daya manusia yang memiliki kualitas di bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan agar dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup, sehingga mendorong sikap proaktif, kretaif dan inovatif di tengah kehidupan masyarakat. Sementara pilar ketiga dan keempat diarahkan untuk membentuk karakter bangsa atau sense of being, yaitu bagaimana harus terus menerus belajar dan membentuk karakter yang memiliki integritas dan tanggungjawab serta komitmen untuk melayani sesama. Sense of being ini penting karena sikap dan perilaku seperti ini akan mendidik siswa untuk belajar saling memberi dan menerima serta belajar untuk menghargai serta menghormati perbedaan atas dasar kesetaraan dan toleransi.
Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan atau perkembangan pendidikan. Ini merupakan hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus mampu menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.
Dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah, siswa dituntut untuk bersikap aktif, kreatif, dan inovatif dalam menanggapi setiap pelajaran yang diajarkan. Setiap siswa harus dapat memanfaatkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu setiap pelajaran selalu dikaitkan dengan manfaatnya dalam lingkungan sosial masyarakat.
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Begitu pentingnya membangun kemampuan berfikir matematis, maka matematika diberikan mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis dan kreatif.
Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam pengelolaan pembelajaran teknologi pembelajaran matematika agar pembelajaran tersebut dapat memberikan hasil yang diharapkan. Salah satu faktor tersebut adalah penyelenggaraan pembelajaran yang masih didominasi guru, Hal ini sejalan dengan pendapat Hudoyo (2002: 2) yang menyatakan bahwa “guru masih senang mengajar dengan pola pembelajaran konvensional dan sedikit sekali melihat peluang-peluang untuk melakukan kegiatan yang lebih inovatif”. Pembelajaran yang dilakukan kurang memperhatikan aspek kemampuan siswa dan sejauh mana pembelajaran dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pemahaman dan penalaran berpikir siswa.
Pembelajaran matematika di SD mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hal ini sejalan dengan KTSP (Depdiknas, 2006: 37) yang menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran matematika adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah;
2. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika;
3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh;
4. mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah;
5. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Dengan demikian tujuan pembelajaran matematika tersebut tidak hanya dimaksudkan agar siswa terampil melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, tetapi juga mengusahakan agar siswa mampu menggunakan keterampilan tersebut untuk menyelesaikan masalah (problem solving). Pembelajaran matematika juga hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang bersifat kontekstual (contextual problem). Materi dalam pengajaran matematika harus memiliki keterkaitan dengan kehidupan atau keseharian siswa. Dengan demikian, penalaran dalam matematika akan membantu siswa agar terampil menghadapi permasalahan dalam kehidupan real (nyata).
Mata pelajaran matematika mempunyai karakteristik yang berbeda dari mata pelajaran lain, salah satu karakeristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) melaporkan rata-rata skor matematika siswa tingkat 8 (kelas II SLTP) Indonesia jauh di bawah rata-rata skor matematika siswa internasional dan berada pada ranking 34 dari 38 negara. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika. Selain itu, belajar matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah. Jenning dan Dunne (1999:5) mengatakan bahwa “kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real”. Sejalan dengan pendapat Panhuizen (2000:15) yang mengemukakan bahwa “bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman anak sehari-hari maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika”. Berdasarkan pendapat di atas pembelajaran matematika di kelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari atau pada bidang lain sangat penting dilakukan.
Salah satu kesulitan belajar yang dihadapi kelas V SD Negeri Puspajaya adalah memecahkan masalah volume kubus dan balok. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar siswa kelas V dalam menghitung volume kubus dan balok apalagi jika masalahnya disampaikan dalam bentuk soal cerita. Rendahnya hasil belajar tersebut diduga disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ada kemungkinan dari strategi/metode pembelajaran yang digunakan guru belum tepat. Kedua, dari faktor murid, bahwa murid di SD masih belum memahami cara pemecahan masalah volume kubus dan balok.
Masalah peningkatan hasil belajar siswa kelas V dalam memecahkan masalah volume kubus dan balok menjadi pusat perhatian pada penelitian ini. Hal yang dipermasalahkan karena rendahnya prestasi yang diperoleh oleh siswa dan banyaknya keluhan dari siswa tentang ketidakmampuannya memahami masalah volume kubus dan balok yang sering ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu peneliti termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pemecahan masalah volume kubus dan balok. Dalam hal ini, peneliti akan mencoba menggunakan pendekatan pendidikan matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME) dengan tujuan agar hasil belajar siswa kelas V menjadi meningkat.
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan tersebut harus diteliti dengan tindakan-tindakan yang mengacu kepada penelitian ilmiah. Salah satunya adalah penelitian tintakan kelas (PTK). Melalui penelitian tindakan kelas, selain berupaya untuk memperoleh gambaran tentang masalah tersebut, juga berupaya untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas V SD secara konseptual dan prosedural terhadap pemecahan masalah volume kubus dan balok.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, secara umum permasalahan yang akan diteliti adalah “bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD dalam menyelesaikan masalah volume kubus dan balok melalui Realistic Mathematics Education (RME)”.
Masalah tersebut dapat dijabarkan ke dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimana kegiatan belajar siswa dalam menyelesaikan volume kubus dan balok melalui Realistic Mathematics Education (RME)?
2. Bagaimana hasil belajar siswa dalam menyelesaikan masalah volume kubus dan balok melalui Realistic Mathematics Education (RME)?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai pemahaman konseptual dan prosedural anak didik kelas V SD terhadap pemecahan masalah volume kubus dan balok.
2. Tujuan Khusus
Sehubungan dengan tujuan umum, maka tujuan tersebut digambarkan ke dalam beberapa tujuan khusus, yaitu:
a. mengetahui kegiatan belajar siswa dalam menyelesaikan masalah volume kubus dan balok melalui Realistic Mathematics Education (RME);
b. mengetahui hasil belajar siswa di kelas V SD Negeri Puspajaya dalam menyelesaikan masalah volume kubus dan balok melalui Realistic Mathematics Education (RME).
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan oleh penulis melalui penelitian ini adalah:
1. Manfaat bagi siswa:
a. dapat meningkatkan pemahaman, keaktifan, dan kreativitas siswa serta adanya inovasi pembelajaran di kelas dalam menyelesaikan masalah volume kubus dan balok;
b. bagi siswa yang daya tilik dan daya ingatnya kurang, dapat membantu meningkatkan hasil pembelajaran dalam menyelesaikan masalah volume kubus dan balok.
2. Manfaat bagi Guru:
a. mengolah pengetahuan dalam mengelola pembelajaran baik perencanaan dan kegiatan belajar siswa selama berlangsungnya pembelajaran penyelesaikan masalah volume kubus dan balok melalui Realistic Mathematics Education (RME);
b. dapat dijadikan sebagai salah satu model pembelajaran matematika di kelas V SD untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa dalam penyelesaikan masalah volume kubus dan balok.
3. Manfaat bagi calon Guru:
a. dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam perkuliahan dan contoh untuk melaksanakan penelitian di kelas V Sekolah Dasar;
b. sebagai bahan bacaan yang bermanfaat dalam menambah pengetahuan untuk penelitian tindakan kelas.
4. Manfaat bagi Lembaga:
a. sebagai arsip dokumentasi yang membuktikan adanya inovasi dalam dunia pendidikan.
b. Menunjukan bukti keberhasilan perkuliahan di Universitas Pendidikan Indonesia
c. Menjadi daya tarik bagi masyarakat yang berminat untuk melanjutkan studi di Universitas Pendidikan Indonesia.
E. Definisi Operasional
1. Hasil belajar adalah “suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan” (Sudjana 2000:19).
2. Volume bangun ruang merupakan bagian ruang lingkup geometri di Sekolah Dasar. Bahan pengajaran geometri di kelas V SD semester I dalam Kurikulum SD Tahun 2006 adalah “menghitung volume kubus dan balok serta menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume kubus dan balok” (Depdiknas, 2006: 110).
3. Realistic Mathematics Education (RME) merupakan pendekatan pembelajaran dalam pendidikan matematika yang menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran. Melalui kegiatan matematisasi horisontal dan vertikal diharapkan siswa dapat menemukan dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar